Jumat, 11 September 2009

boks ahli DNA

Dr Djaja Surya Atmaja, SpF, PhD, SH, DFM, Pembuat Data Base DNA Orang Indonesia

Hasil Diketahui Kurang dari 1 Hari, Biaya Sangat Mahal

Polisi butuh waktu hingga dua minggu untuk mengetahui hasil tes DNA teroris yang tewas di Bekasi dan Temanggung. Padahal, dengan teknologi mutakhir, hasil itu sudah bisa diketahui dalam waktu 18 jam. Berikut penuturan Dr Djaja Surya Atmaja, ahli DNA di Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

DEDI MIRWAN, Jakarta

Djaja Surya atmaja terlihat serius membaca artikel Legal Medicine di sebuah Jurnal Elsevier di ruang kerjanya kemarin sore. Ruang kerjanya berdekatan dengan kamar jenazah di RSCM, Jakarta Pusat. Cukup kecil. Sekitar 10 M x 5 M. Letaknya di lantai 2 Gedung Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di tempat ini terdapat botol-botol bahan kimia, alat uji DNA teknologi lama, mikroskop, dan mesin foto kopi.
’’Silakan masuk Mas,’’ kata pria yang biasa disapa Djaja ini saat melihat kedatangan INDOPOS.
’’Saya baru saja memberikan bimbingan skripsi kepada salah satu mahasiswa. Di ruangan ini memang juga dipakai untuk tempat bimbingan dan mengajar beberapa mahasiswa saja,’’ lanjut dia.
Kepada INDOPOS, Djaja menjelaskan bahwa teknologi pemeriksaaan DNA saat ini sudah sangat maju. Dengan menggunakan alat Elektoforesisi Kapiler, hasil tes DNA sudah dapat diketahui hanya dalam hitungan jam.
’’Kalau pipa kapiler untuk menarik sampel digunakan sebanyak 96, maka hasilnya sudah dapat diketahui dalam tempo 18 jam. Sedangkan teknologi yang ada di RS Polri Sukanto, pipa kapiler yang digunakan hanya 16. Jika dibandingkan, hasil tes DNA sudah dapat diketahui hanya dalam waktu kurang dari 3 hari,’’ kata peraih gelar PhD di bidang DNA dari Kobe University Jepang ini.
Mutu sampel yang didapatkan juga ikut mempercepat proses tes DNA. Namun, kebanyakan sampel pelaku bom yang dimiliki sudah rusak atau jumlahnya sangat sedikit.
’’Untuk kasus para teroris di Bekasi dan Temanggung sampelnya masih baik dan banyak,’’ kata bapak 3 anak tersebut.
Diakui dokter yang juga memiliki gelar Sarjana Hukum ini, lamanya proses tes DNA yang dilakukan polisi akibat terbentur kendala dana. Sebab, satu kali tes DNA butuh dana jutaan rupiah. Dana tersebut dibutuhkan untuk membeli sejumlah bahan kimia. Selain itu, semua bahan kimia tersebut kebanyakan masih impor.
Untuk tahap awal tes saja, kata Djaja, yaitu tahap ekstaksi sampel, butuh dana Rp 50–100 ribu untuk satu sampel. Memasuki tahap Polymerase Chain Reaction (PCR) atau penggandaan DNA harga mulai naik menjadi Rp 100–Rp 150 ribu per sampel. Tahap akhir, yaitu 13 tes Short Tandem Repeats (STR), harganya sangat fantastis. Mencapai Rp 50 juta untuk 100 sampel. Sedangkan jika menggunakan teknik 16 STR, harganya naik dua kali lipat Rp 100 juta untuk 100 sampel.
’’Tes ekstraksi hanya 1-2 jam. Tes PCR hanya 2-4 jam. Sisanya adalah tes STR. Dalam pemeriksaan DNA, tidak mungkin hanya 1 sampel. Jumlahnya bisa mencapai ribuan. Polisi pasti memeriksa 16 sampel sekaligus, sesuai jumlah pipa kapiler yang dimiliki. Kalau kurang cairan yang digunakan menjadi mubazir,’’ urai dokter yang berhasil membuat database DNA orang Indonesia pada 2008 ini.
Mengenai sampel yang baik untuk tes DNA sangat banyak dan bervariasi. Namun, kebanyakan yang sering digunakan adalah darah, usapan air liur pipi bagian dalam, sperma, dan jaringan tubuh seperti otot, gigi, tulang, dan kulit.
’’Pada kasus bom, sampel bisa ada saja yang ditemukan tim forensik. Kebanyakan juga sudah terkontaminasi,’’ beber Djaja.
Disingung mengenai tingkat keberhasilan tes DNA, ujar Djaja, dilihat dari 13 standar yang digunakan sekitar 300 laboratorium forensik di seluruh dunia. Standar tersebut dibuat oleh Federal Bureau of Investigation (FBI) dari Amerika.
’’Kalau lebih dari 2 atau sama dengan 2 tes yang tidak cocok, maka hasil tidak akurat. Sedangkan kalau ada 1, maka sampel sudah mutasi,’’ terangnya. Hasil dari 13 tes yang telah dilakukan, katanya, belum cukup untuk mengetahui tingkat kecocokan DNA. Masih ada dua indikator lagi, yaitu patermity index dan probability. (*)

Tidak ada komentar: