Jumat, 11 September 2009

boks pakar psikiatri

Dr AAA Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), Terapis Mantan Calon ‘Pengantin’ Noordin

Perekrutan Noordin Gunakan Tehnik Mesmerism

Noordin M Top terus mencari orang-orang yang akan dijadikan calon penganti (istilah orang yang dijadikan pelaku bom bunuh diri). Tidak semua orang yang didekati, berhasil menjadi calon pengantin. Ada juga yang gagal. Kebanyakan orang yang gagal mengalami gangguan kejiwaan. Berikut pengakuan Dr AAA Agung Kusumawardhani SpKJ (K), terapis mantan calon pengantin buronan teroris nomor wahid di Indonesia ini, kemarin.

DEDI MIRWAN, Jakarta

Butuh sekitar 10 menit berjalan kaki melewati lorong-lorong Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo bagi INDOPOS untuk bertemu dengan Dr AAA Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), Kepala Departemen Psikiatri Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia. Maklum, letak kantornya berada jauh di pintu masuk RSCM, tepatnya di Jalan Kimia II No.35.
Sesampainya di ruangan berlantai dua tersebut, INDOPOS langsung dipersilahkan untuk menunggu di Klinik Empati yang berada di lantai I gedung Departemen Psikiatri. Dalam klinik tersebut terdapat beberapa ruangan konseling dan beberapa bangku untuk tamu menunggu. “Kalau jam segini saya sibuk mengurus masalah administasi,” kata Kusumawardhani, sapaan akrab Dr AAA Agung Kusumawardhani ketika baru masuk ke Klinik Empati.
Ibu tiga anak tersebut kemudian mempersilahkan INDOPOS untuk masuk ke sebuah ruangan konseling yang berada persisi di samping toilet. Dalam rungan berukuran 2 M x 2 M tersebut hanya terdapat sebuah meja dan 3 buah bangku. “Pintunya ditutup saja. Takut mengganggu pasien lain,” pintanya.
Setelah bertutur panjang lebar, dokter kelahiran Denpasar 10 Oktober 1955 ini mengaku pernah menangani pasien laki-laki yang dijadikan calon pengantin Noordin. Hingga kini, pasien tersebut masih menjalani rawat jalan ke RSCM. Namun sayang, Kusumawardhani tidak mau membeberkan indentitas pasien tersebut.
“Sekitar satu tahun yang lalu, saya pernah mendapatkan pasein yang mengalami gangguan kejiwaan. Pasien saya tersebut mengalami kebimbangan dan kondisinya sangat kacau. Bahkan, korban sudah tidak mengenali kedua orang tuanya lagi. Korban juga sering berbicara yang tidak jelas. Korban masuk ke RSCM satu hari setelah lebaran tahun lalu. Tanggal pastinya saya lupa,” Kusumawardhani bercerita.
Berdasarkan pengakuan orang tua korban, kata alumni Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ini, anaknya sempat terpengaruh oleh orang-orang Jemaah Islamiyah (JI) dan Noordin M Top. Korban adalah salah seorang mahasiswa salah satu universitas swasta jurusan Ilmu Komunikasi di Jakarta. Kira-kira, umurnya sekitar 22 tahun.
“Korban dekat dengan seseorang perempuan 2-3 bulan sebelum dirujuk ke RSCM. Sifatnya berubah sejak kenal dengan perempuan tersebut,” bebernya sambil meniru pengakuan dari ayah korban.
Perubahan tersebut seperti suka melawan orang tua. Sering keluar rumah tanpa pamit. Bahkan, uang tabungannya habis terpakai. Sebelum dibawa ke RSCM, korban tersebut terlebih dahulu dirawat selama dua minggu di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. korban juga sempat rawat inap di RSCM selama 2 bulan sebelum diperbolehkan pulang.
“Enam bulan setelah melakukan perawatan, kondisi korban sudah membaik. Dia juga kembali kuliah sambil rawat jalan. Kejiwaannya sudah tidak bimbang dan kacau lagi. Hanya saya dia tidak pernah mau mengaku apa yang menyebabkan dirinya bimbang. Dia hanya bilang kalau bertemu dengan orang jahat,” pungkasnya seraya mengatakan teman seprofesinya disalah satu rumah sakit juga pernah menangani korban Noordin.
Lantas apa yang membuat mantan calon pengantin Noordin tersebut mengalami ganguan kejiwaan? Kusumawardhani menjelaskan, teroris kemungkinan telah melakukan suatu tindakan kepada korban sehingga dia bisa terpengaruh dan merubah konsep pikirnya. Teroris tesrebut harus lebih dominan ketimbang orang yang akan dijadikan calon pengantinnya.
“Dalam Psikologi istilahnya bukan brainwashing (pencucian otak). Tetapi reedukasi atau talk reform. Ditanamkan pembentukan konsep berfikir yang baru. Noordin kan orangnya sangat berkarisma dan dominan. Pasti dia dapat melakukannya,” ungkap dokter yang mengambil spesialis bidang kejiwaan di FKUI tersebut.
Menurutnya, ada beberapa tehnik yang dilakukan untuk melakukan reedukasi otak. Pertama dengan tehnik cognitif behavior therapy (CBT). Dalam tehnik ini, harus ada kontrak terapi antara pasien dan psikiaternya. Untuk melakukan tehnik ini, kondisi pasien harus benar-benar sadar.
Sedangkan cara kedua adalah hypotherapy. Tehnik ini lebih khusus. Pasien dibawa kesuasana yang releks. Dalam istilah psikologinya disebut alfastate. Kemudian dimasukan konsep-konsep positif yang sudah disetujui bersama.
“Kedua tehnik tersebut tidak digunakan Noordin untuk merekrut calon pengantinnya. Dia menggunakan tehnik lain. Butuh berbulan-bulan untuk mempengaruhi dengan tehnik CBT dan hypotherapy,” tegasnya.
Psikiater yang tinggal di Jakarta Selatan tersebut menjelaskan, tehnik yang digunakan Noordin adalah Mesmerisem. Tehnik ini sejenis hipnotis, tapi bukan hypnotherapy. Kebanyakan dilakukan untuk tindakan jahat. Dengan cara, seseorang dapat mempengaruhi dengan lebih cepat.
“Korbannya sering diajak zikir dan pengajian. Zikir dan pengajian tentunya tidak sekali dua kali. Pasti berulang-ulang. Sehingga kondisi otaknya menjadi alfastate. Noordin sudah punya konsep untuk mempengaruhi. Baru kemudian dimasukan mimpi-mimpi jihad dan masuk surga. Pesan-pesan yang disampaikan sering kali bertentangan dengan akal sehat. Sehingga membuat korbannya mengalami gangguan kejiwaan,” katanya.
Orang-orang yang biasa menjadi korban adalah mereka yang sedang labil. Kebanyakan adalah remaja. Sebab, mereka sedang mencari jati diri dengan mengikuti sikap dan perbuatan yang menjadi panutannya. Bagi remaja, teman adalah segalanya.
“Seumuran itu, mereka lagi mencari-cari. Jika dikasih pandangan yang bagus dan hebat mereka akan terkesima. Untuk mengobati orang-orang yang sudah terkena mesmerism ini, harus dengan terapis dan dibantu obat-obatan. Peran orang tua dibutuhkan dalam kondisi seperti ini.,” paparnya.
Bagi Kusumawardhani yang sudah menjadi psikiater selama 15 tahun, berbagai suka duka telah dilalui. Suka kalau berhasil mengobati seorang pasien. Ada kebanggan tersendiri. Namun, dukanya adalah sering dimusuhi oleh pasien. “Kita harus bisa mendekatkan diri dengan pasien. Mereka akan dekat kalau menggangap kita sebagai temannya,” kata psikiater yang sempat berguru pada Dr Erwin Kusuwa, psikiater senior di RSPAD Gotot Subroto ini. (*)

Tidak ada komentar: